Loading...

cool abizzzzzzz

cool abizzzzzzz

Modifikasi Motor Jupiter Mx

Yamaha Jupiter MX adalah salah satu tipe bebek sport yang hadir di Indonesia. Tampangnya yang sporty dan mesin 135 cc yang memakai pendingin air (radiator) dan juga kopling menjadikan salah satu tipe motor bebek yang paling laku saat ini.

Tampangnya yang sporty masih bisa dirubah atau dimodifikasi agar tampil lebih sporty saya ambil beberapa foto dari beberapa website tentang modifikasi Jupiter Mx



dengan penambahan sayap disisi dan bawah mesin menjadikan jupiter mx lebih sporty terlebih dipasangkan lampu jupiter z ke bagian depan dan tanpa lampu atas.

keren abisszzz

keren abisszzz

Gue bAn6eT

Gilera Nexus Andalan Pabrikan Motor Italia

Maret 19, 2009 at 2:38 pm (Uncategorized)

172256p1
Piaggio merupakan pabrikan skuter paling populer di dunia. Namun, tak ada yang tahu perancang awalnya, tak lain Guiseppe Gilera yang menjual hasil desain skuternya seharga 2 juta Franch kepada pabrikan motor Italia itu. Dunia pun dilanda deman skuter.

Salah satu andalan Gilera saat ini Nexus 300 dan Nexus 500. Untuk yang pertama, performanya sudah dijajal pembalap Gilera, Simoncelli yang memenangkan lomba kelas 250 ccc di Phillip Island, Australia. Sementara yang 500 dicoba tester dari Motor Plus.

Si kribo Simoncelli membejek motor ini dengan gaya balapnya. Tak Cuma badan yang rebah kala di tikungan. Skuter berkelir merah ini dibikin burn out.. Tenaganya, mulai dari putaran bawah sampai atas terus terisi.

Dibanding ‘adiknya’ yang 250 cc, Nexus 300 punya torsi lebih sip, yakni 23 Nm pada kitiran 6.000 rpm. Sedang torsi sang adik 20,2 Nm di kitiran 6.500 rpm. Ini jelas akselerasi Nexus 300 lebih smooth dan bertenaga.

Soal sasis, motor ini mengaplikasi kakaknya, Gilera Nexus 500. Mengurangi getaran dan geometri ideal, mesin dirancang bersinergi dengan rangka double cradle trellis. Termasuk sokbreker belakang yang dirancang memiliki titik penyetelan disesuaikan dengan rider. Pasangannya di depan sokbreker teleskopik 35 mm yang menyajikan stabilitas di tikungan.

Masih soal nyaman, pijakan kaki dirancang 3 posisi sesuai postur pengendaRA. Boncenger juga dimanja. Selain jok nyaman dan berlualitas prima, tempat helm di bawah jok dirancang untuk dua helm sekaligus, full face dan half face.

Bagaimana dengan Nexus 500? Sang kakak ini diuji di Jakarta oleh Motor Plus. Mesin 4 katup SOHC satu silinder berkapasitas 460 cc. Pengabut bahan bakarnya sudah injeksi dengan kopling sistem kering.

Riding position dirancang mirip supersport yang agak bertumpu ke depan. Berat total yang 199 kg dibagi dengan 48% untuik depan dan 52% belakang. Saat dinaiki dengan ergonomi bertumpu ke depan tadi, motor jadi sangat nyaman dan seimbang. Apalagi suspensi belakang bisa disetel naik-turun disesuaikan idealnya pengendara.

Untuk keperluan ini, pabriukan Gilera memakai paduan sokbreker depan telskopik 41 mm berdampingan dengan sok progressive power drive yang bisa disetel dalam 7 titik rendah dan tinggi. Harga motor ini Rp 198 (OTR). (Isf@n)

Spesifikasi Teknik 300

Mesin : Piaggio Quasar 1 silinder 4-tak

Jenis : SOHC (single overhead cam), four valves

Kapasitas : 278 cc

Diameter x stroke : 75 mm / 63 mm

Pendingin : Air

Tenaga : 22,4 HP pada 7,250 rpm

Torsi : 23 Nm at 6,000 rpm

Sistem bahan bakar : Electronic fuel injection

Rem depan : 260 mm

Rem belakang : 240 mm

Ban depan : Pirelli 120/70-15

Ban Belakang : Pirelli 140/60-14

Panjang x lebar x tinggi: 2.110 x 780 x 1.515 mm

Tinggi jok : 815 mm

Kapasitas tangki : 15 liter

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

Honda Tiger Transformer from Cinere

Maret 19, 2009 at 2:31 pm (Uncategorized)

045802p
Pemilik rumah modifikasi Dave Motor Concept (DMC) Wardoyo mengubah Honda Tiger milik Angga, warga Gandul, Cinere, Depok, bergaya robot seperti di film Transformer. Ciri kental sebagai sport cruiser lenyap setelah diubah ke gaya streetfighter berotot kekar.

Makanya, rombakan paling dominan, kata Wardoyo, ada pada batok lampu. Ia mengaku ubahannya itu hasil konsepnya sendiri. Jadi, rumah reflektor asli diganti milik Yamaha Mio Soul yang sedikit di-custom hingga mirip kepala robot. Trus, bagian luarnya diberi ornamen berbahan dasar pelat 0,8 mm.

Kesan robot berotot kekar ditonjolkan Wardoyo pada tangki. Ia memanfaatkan pelat besi untuk mengubah dimensi tangki yang dianggap sebagai badan robot, termasuk juga cover mesin.

Pada sisi kiri dan kanan sasis deltabox dipasang airscoop untuk mempertegas tangan robot yang berotot kawat tulang besi. “Itu semua dibikin dari pelat besi dan dipasang di luar sasis tubular asli agar handling tetap optimal,” bilang pemodifikasi yang mangkal di Jl Raya Depok No 15, Sawangan-Depok.

Sementara itu, kaki robot ikut dipoles jadi kekar. Caranya, suspensi depan standar diganti punya Suzuki GSX400 bermodel teleskopik. Sebagai penyeimbang, lengan ayun (swing arm) handmade khas DMC, jadi andalan setiap motor garapannya. “Lengan ayun yang saya bikin rata-rata memanfaatkan komponen asli lalu di-custom ulang pakai pelat besi. Soal modelnya, saya sering konsep sendiri lalu dipadu dengan masukan dari konsumen,” jelas Wardoyo.

Bagian perut dan pinggang robot diilustrasikan Wardoyo melalui tampilan jok depan hingga cover buritan. Tampilan tambah manis dengan penerapan silencer knalpot undertail./* (KR15)

DATA MODIFIKASI
Ban depan : Battlax BT45 110/70-17
Ban belakang : Battlax BT45 150/70-17
Monoshock : Suzuki Satria 120R
Footstep depan : Yoshimura
Footstep belakang : Yamaha Jupiter MX 135LC
Lampu rem dan sein : Variasi

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

Si Gagak Hitam Mazda RX-7

Maret 19, 2009 at 2:28 pm (Uncategorized)

0655329p
KOMPAS.com — Christian Purnama, pemilik Honda S2000, bila jumpa Mazda RX-7 hitam ini harus waspada. Jika sampai Mr X, sang pemilik yang enggan disebut namanya, mengeluarkan “Gagak Hitam” yang banyak tidur di garasi untuk memenuhi tantangan Chris, maka bisa seru. Jangan-jangan, justru Si Kuning yang diasapi.

Sebab, dari segi tenaga, Mazda bikinan 2002 ini menyimpan tenaga 456 dk. Kelebihan sampai 180 dk dari standarnya. Sementara itu, si penantang hanya 320 dk. Lonjakan itu tercipta setelah dapur pacu standar Rotary 13B-REW (2 x 650 = 1.300 cc) dijejali komponen performa bikinan HKS.

Suara khas turbo
Bagian dari mesin yang dimodifikasi di antaranya frontmount intercooler, diaplikasi dari HKS. Selain turut meningkatkan tenaga yang dihasilkan dari rumah keong (turbo) berspek sequential twin turbocharger, juga efisiensi didapat. Kemudian, untuk mencegah pembuangan gas buang dari turbo saat pedal gas diangkat, ditambahkan blow off valve (BOV).

Selain untuk mencegah hal tadi, sistem pemasangannya yang bypass valve aftermarket tak lain menjaga keawetan turbo. Asyiknya, tekanan udara yang dimuntahkan BOV mengeluarkan suara desahan khas turbo. Buuueeshhh…buuueeshh.

Banyak lagi komponen mesin yang diganti dengan HKS, seperti air intake Super Mega Flow beserta sistem exhaust muffler Hi Power. Kemudian, intake udara Super Mega Flow yang punya diameter permukaan filter udara 30 persen lebih besar dari standar didandani dengan elemen filter warna limited sunset orange yang punya sistem 2 layer wet.

Sementara itu, HKS Hi Power yang didesain untuk mesin turbo menawarkan spek pipa stainless SUS304 yang punya desain diameter pipa 75 mm dan diameter lubang muffler 120 mm. Fungsinya untuk mengoptimalkan kelancaran saluran pembuangan agar respons tekanan boost menengah yang lebih baik.

Belum puas dengan penambahan komponen performa, Mr X memasang komputer A’PEXi Power FC yang punya khas sistem stand alone. Kelebihannya bisa mendongkrak tenaga mesin yang sudah dijejali produk HKS mencapai 456 dk.

Brembo competition
Walah, dengan tenaga sebesar itu, apa sedan coupe itu bisa berhenti? Mr X sadar betul kalau rem standar pasti tidak mumpuni. Makanya, bagian depan diganti dengan Brembo Competition yang kalipernya lebih besar, dan, untuk deselerasi, tentu lebih baik. Adapun rem belakang yang sudah disc brake hanya dimodifikasi dengan sistem cross drilled.

Untuk meredam goncangan dan meminimalkan body roll, sistem suspensi diganti dengan HKS Hiper Max yang desainnya monotube. Diklaim sang pembuat (HKS) jauh lebih bagus dari sistem twin tube konvensional. Konstruksinya terdiri dari silinder tunggal yang terbagi atas ruang untuk oli serta gas yang tak menyatu. Dengan demikian, desain piston jadi lebih besar.

Dengan ubahan di dua sektor itu, manuver di tikungan jadi lebih yakin setelah keempat roda dipakai velg 19 x (8,5 + 9,5) inci yang bercorak 3-piece bibir stelip. Velg yang dipilih SSR model Professor MSI yang konsepnya bergaya oldschool racing.

Mudah-mudahan, “Si Gagak Hitam” ini bisa ketemu sama Honda S2000 di jalan tol. Pengin tahu, siapa yang menang.

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

Subaru Ballistic-3 2000

Maret 19, 2009 at 2:25 pm (Uncategorized)

072645p
Soal modifikasi mobil, Indonesia boleh diadu dengan negara mana pun, pasti menang. Nih, contohnya Subaru WRX 2000, kolaborasi Rizky Haroen dan Denny Massie Auto Sport (DMAS) yang mereka namakan Ballistic-3.

Dari bentuknya, Ballistic-3 ini lebih mendekati ke mobil balap jenis ketahanan. Malah lebih mirip dengan Mazda Furai (baca: foo-rye). Mobil konsep yang dirancang oleh Mazda California Desain Studio dan Swift Engineering. Furai sendiri dibuat dari sasis Courage C65 LMP2 (Le Mans Prototipe 2).

Untuk mewujudkan Ballistic dengan tampilan bodi menyerupai tiupan angin, DMAS dan tim Ballistic hanya memakai sasis dari Subaru itu. Untuk penguat tambahan yang sekaligus berfungsi sebagai tulang bodi, disematkan 3 jenis besi, yakni besi siku, besi gepeng, dan besi pipa. Masing-masing besi tulang disesuaikan bentuk dan penempatannya.

Besi siku penguat sisi kulit bodi dan besi gepeng berukuran 1,2 mm untuk bagian bodi yang menghadap ke atas, sedangkan besi pipa berfungsi sebagai pilar A dan B sampai ke belakang. Adapun dek dibuat dari bahan aluminium 1,2 mm dengan penempatannya direndahkan 3-5 cm di bawah kopel bawaan. Ini jelas berpengaruh pula pada posisi duduk dan ketinggian atap.

Sementara itu, untuk bodi keseluruhan mengandalkan bahan fiberglass yang diproses melalui percetakan clay dan diakhiri pelapisan dempul yang tipis. Trus, untuk membentuk alur angin di masing-masing sisi, agar serupa, menggunakan cermin. Ini agar ada patokan untuk titik tarikan nut di salah satu sisinya.

Desain wing dibuat dua tingkat agar buritan terlihat mengisi. Lantaran bentuk panel bodi merunduk, kaca depan tak bisa dipakai. Sebagai gantinya, itu dibikin dari bahan akrilik setebal 4 mm dengan menggunakan gergaji dan heat gun untuk memotong dan membentuknya. Supaya seperti tampilan kaca beneran, bagian pinggir dikasih lis terbuat dari fiberglass dan dicat hitam.

Menariknya, untuk membuka dan menutup mulai dari kap mesin, atap, hingga bagian belakang mengandalkan konstruksi yang tidak biasa. Ketiganya dibantu beberapa trigger perantara yang dilengkapi dengan bearing.

Single seater
Masuk ke interior, kesan kental mobil balap Le Mans tampak dari konsep tempat duduk tunggal (single seater). Karena posisi kursi di tengah, mau tak mau setir (dipilih model pesawat) dan dasbor (dilapisi suede) dirancang ulang. Instrumen dan tombol-tombol yang dipakai benar-benar berfungsi dan sesuai dengan estetika sport car. Penempatannya disebar di antara dasbor, kokpit, dan kolong dasbor.

Keunikan dari mobil ini, konsep totalitasnya lewat rangkaian kelistrikan yang dinamakan Cellular Security System. Artinya, untuk menghidupkan mesin bisa dilakukan dari jarak jauh menggunakan metode pemanggilnya via ponsel. “Cara kerjanya dengan mengubah pola panggilan dering yang datang. Jadi, arus yang menggerakkan motor strater,” ujar Made Darmawan, sang perakit.

Untuk menggerakkan motor starter secara teratur digunakan bantuan computer CT2 autolock. Perangkat ini tinggal disesuaikan waktu kerjanya sampai menyentuh titik picu agar mesin hidup sempurna.

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

VW Chico Kupu-Kupu Malam

Maret 19, 2009 at 2:19 pm (Uncategorized)

024609t
Pabrik mobil Volkswagen (VW) di Jerman pasti geleng kepala (sebagai kekaguman) jika melihat VW ‘Chico’ bikinan Kunto Wibisono dan tim bengkel Kupu-Kupu Malam (KKM) dari Yogyakarta ini. Bagaimana tidak. Pihak prinsipal itu pasti tertipu habis kalau basis mobil itu dari VW Beetle 1.200 keluaran 1961, malah bisa dijadikan inspirasi untuk konsep mobil sport VW.

Pemberian nama Chico, “Pemiliknya suka minum Chivas campur Coca-Cola, (jadi) Chico mudah diingat,” sebut Kunto Wibisono, komandan bengkel KKM. Tak salah pula bila KKM yang semula diberi julukan Pengrajin Mobil Yogyakarta ini acap melahirkan kreasi ekstrem.

Termasuk pada Chico yang mengangkat beban sebanyak 7 motorize. Gagasan memakai sistem ini yang mesti mengangkat beban berat merupakan poin utama agar target menciptakan inovasi mendapat apresiasi tinggi dari khalayak ramai.

Kunto menerjemahkan isi kepala Rudi, pemilik VW menggunakan motorize sebagai motor penggerak. Rinciannya, untuk tutup bagasi depan (1 unit), dua pintu kiri dan kanan (4 unit), kap bagasi belakang (1 unit) dan bumper depan (1 unit). “Satu unit motor mampu mengangkat beban 60 kg,” ujar Kunto.

Untuk motorize 1 gerakan bolak-balik pada tutup bagasi depan menggunakan motor DC Custom dengan batang pendorong besi berdiameter 0,75 inci dan panjang 60 cm, sedang atap pakai besi berdiameter 2 inci panjang 45 cm. “Agar gerakan atap lebih lembut digunakan dua shock custom kiri dan kanan,” tukas Kunto.

Keunikkan tampak pada buka tutup pintu yang dibikin dua arah ke atas dan ke samping dengan mengandalkan empat motor merupakan modifikasi dari motor DC 36 volt diubah menjadi 12 volt. Dan merancang motorize di banyak tempat bukanlah hal yang mudah. Ia mengaku butuh waktu 1 bulan untuk menghitung gerakan. Dan untuk menggerakkannya dibutuhkan 3 aki yang 80 ampere dan alternator standar Porsche yang 85 ampere.

Selain bodi, mesin juga ‘diobrak-abrik’ tidak kepalang tanggung. Jeroan dapur pacu diimplan dengan komponen Porsche 914 karena menurut Kunto basisnya sama dengan VW.

Komponen yang dipakai seperti kruk as dan setang piston berikut piston dari Scat. Kemudian dilanjutkan dengan pemasangan cam CB Performance berdurasi 120 derajat. Trus, total kapasitas ruang bakar menjadi 2.000 cc setelah dilakukan pemasangan silinder Porsche 914 berikut kepala silinder ditambah dengan turbo dari Garret T3.

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

Mitsubishi Time Attack yang Gahar

Maret 19, 2009 at 2:17 pm (Uncategorized)

055529p
Time Attack (TA), salah satu kompetisi balap yang sedang marak di Jepang, Amerika, bahkan Eropa telah mengilhami Adhi Wisesa alias Ebel untuk memodifikasi Mitsubishi Lancer Evo VIII miliknya yang kerap diturunkannya di ajang drag race. Targetnya ingin mengikuti kontes modif.

“Banyak yang meragukan kualitas tampilan bodi mobil balap yang kurang dikerjakan sempurna,” bilang pemilik bengkel Wisesa Motorsport. Padahal di arena TA, menurut Ebel, desain mobilnya keren-keren, seperti Evo VIII Nobuteru Taniguchi dari tim HKS.

Mobil merah dari HKS yang terkenal dengan julukan “No One Better” (NOB) sangat legendaris lantaran berhasil memecahkan rekor di beberapa sirkuit di Jepang dan Amerika. Inilah yang menjadi acuan modifikasi Ebel pada Lancer Evo VIII kuningnya yang diramal tak hanya gahar dapur pacunya, tetapi juga sangar penampilannya.

Proyek eksteriornya menjadi fokus tema TA, mulai dari aplikasi body kit, tema stiker cutting, sampai kaki-kaki.

Desain body kit copy paste dengan Evo VIII NOB yang diberi nama CT230R. Kemiripan dimulai dari bumper depan, kap mesin, sampai menggembungkan bodi. “Bumper dan fender aslinya dicopot kemudian dirancang replika CT230R dengan bahan fiberglass,” papar Ebel. Sekalipun desainnya ekstrem, tetapi sistem pemasangannya sangat cepat. Untuk pemasangan body kit memakan waktu tak lebih dari 10 menit.

Urusan kaki-kaki harus menggunakan produk berbau TA. Pilihannya jatuh pada Volk Racing TE37 Time Attack Edition. Untuk mendapat velg seperti itu, Ebel harus merogoh kocek sebesar Rp 50 juta.

Masih urusan body, coba tengok ke lampu depan kanan, ia rela melubanginya sebagai saluran udara ke intake. “Lampu dilubangi bagian mikanya, lalu dibentuk lorong custom dari fiberglass,” bilang Ebel.

Dibutuhkannya pendinginan untuk intake lantaran tenaga dapur pacu sudah didongkrak. Karena untuk keperluan kompetisi, Ebel sampai punya 3 set piston, yaitu CP, Wiseco, dan JUN. Ketiga merek piston itu ada yang telah didoping oleh turbo Garret GT35 ball bearing dengan boost 2,2 bar. Rata-rata tenaga yang dihasilkan berkisar 450 sampai 470 dk.

Selain mesin dan kaki-kaki, untuk kepentingan balap, unsur aerodinamika juga penting. Gaya racing dengan GT wing yang sempat jenuh beberapa tahun ke belakangan, kini aplikasinya mulai dipaksakan. Seperti GT wing Arospeed yang dibuatkan dudukan custom untuk bagian buritan Evo VIII.

Peranti aerodinamika lainnya tampak pada bagian atas kaca belakang, dikasih sirip-sirip yang biasa disebut Vortex Generation.

Mari kita beralih ke interior. Nuansa mobil balap benar-benar diaplikasi dan didesain sangat rapi tanpa terlihat kabel yang acak-acakan. Semua peranti balap terpasang dengan rapi. Begitu juga roll bar Cusco yang dirancang khusus.

Kaca samping dikasih akrilik yang sudah dilubangi sepanjang pilar A yang punya dua fungsi. Selain bikin enteng, itu juga menjadi ciri khas mobil balap.

Bagaimana hasil kontesnya? Garapan Ebel ini menyabet gelar King of Racing Style pada Accelera Auto Contest pertengahan Desember tahun lalu.

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

Nouvo Style Bobber Karya Saudara Vokalis The Changcuters

Maret 19, 2009 at 2:13 pm (Uncategorized)

103338p
Setelah low rider, masuk 2009, modifikasi skubek kayaknya bakal dilanda demam virus style bobber. Aliran ini sebelumnya sangat kental dengan motor jenis sport atau moge lawas. Hanya, yang jadi contoh kali ini adalah skubek berbadan lebih besar dari ukuran standar umumnya, yakni Yamaha Nouvo.

Ide liar ini dilakukan oleh kumpulan anak muda kreatif dari Geba Leisure Parts (GLP) Bandung, Jawa Barat. “Sengaja dibuat di Nouvo. Selain karena spesies skubek, kami juga ingin tonjolkan gaya baru,” ungkap Ardhi Kupret, pemilik sekaligus pemodifikasi yang menghasilkan karya rapi lewat tangan dinginnya.

Dari sisi tampilan, ada beberapa kesamaan dengan low rider. Paling mencolok, sama-sama mengusung konsep ceper dan menggunakan ban lebar alias velg mobil. Bedanya, kalau skubek low rider, sasis dimundurkan; pada Nouvo ini, kerangka belakang justru dipotong 15 cm. Sumbu roda ikut dimundurkan 25 cm.

Tentu banyak kompartemen yang tergeser, seperti tangki harus maju ke depan. Volume ruang bagasi jadi berkurang. Namun, tampilan Nouvo tampak lebih padat. “Kan itu memang salah satu ciri bobber,” lanjut saudara kandung Tria, vokalis The Changcuters.

Bentuk bodi yang kian padat dengan menggunakan bahan fiber dibentuk kotak-kotak atau punya bidang datar besar supaya padat dan semakin kuat. Itu termasuk jok—menggunakan bahan beludru dengan variasi lubang bertali—yang dirancang tunggal (single seater), kian menguatkan kesan padatnya. “Hal yang harus dihindari adalah lekukan,” bilang Ardhi.

Karena ingin menghasilkan karya yang sempurna, pengerjaan bodi paling lama, yakni lebih satu bulan. “Itu karena benar-benar konsep baru yang belum ada cetakannya. Meski terlihat kotak, detailing tetap terlihat banyak,” bangganya.

Dari Nouvo ini ada beberapa inovasi yang dilakukan Ardhi. Pada sisi kiri motor ada tuas shifter, tetapi fungsinya bukan untuk menaik-turunkan gigi persneling karena Nouvo bertransmisi otomatis. Oleh Ardhi, tuas itu difungsikan sebagai starter dan klakson. Dengan menekan tuas, mesin akan menyala; dan kalau didorong ke depan, klakson berteriak.

Inovasi lainnya—dan ini boleh ditiru—adalah pedal rem yang diposisikan di dek kanan. Hebatnya, sekali ditekan, rem depan dan belakang bekerja secara bersamaan. “Bikinnya simpel, tinggal sambungkan kabel di bawah bodi. Untuk rem depan, jika diinjak, maka seperti menarik hendel rem, begitu juga belakang,” kata modifikator penyuka celana ketat ini.

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

Ford Focus RS 2009 Hadir Lebih Sporty

Maret 19, 2009 at 2:09 pm (Uncategorized)

222107p1
Sekalipun lagi diterpa badai kesulitan dana, Ford meluncurkan Focus RS 2009. Menariknya, sedan yang jadi andalan di ajang reli dunia ini diproduksi beberapa bulan setelah konsepnya pertama kali dipajang di British Motor Show.

Dari segi tampilan, sedan hatchback ini memiliki beberapa perbedaan dengan Focus generasi sebelumnya. Eksteriornya tampak lebih sporty dengan gril berkelir hitam dan di bawahnya rongga udara yang besar.

Pada bagian belakang, sayap mengadopsi dari mobil reli, hanya ukurannya lebih kecil. Terus, pada bagian bawah terdapat diffuser yang ujung kiri dan kanannya mencuat knalpot. Tampilan kian gagah didukung keempat roda menggunakan velg 19 inci.

Sementara itu di interior, kesan sedan sport sangat kental berkat kedua jok depan semi-backet dari Recaro ditambah panel di dasbor bernuansa serat karbon serta tongkat persneling dari aluminium.

Bagaimana dengan tenaga? Ford Focus RS ini bermesin 2.500 cc 5 silinder dilengkapi turbocharger dan mempunyai tenaga maksimum 296 dk. Dari hasil tes, kecepatan maksimum bisa mencapai 257 km/jam. Dan untuk akselerasi dari 0 sampai 100 km/jam ditempuh hanya 5,9 detik.

Layaknya sebuah mobil sport, Focus ini juga memakai limited-slid differential, dibekali suspensi sport, dan perangkat rem yang mumpuni mengingat tenaga mobil yang besar.

Untuk di Inggris, Focus RS 2009 ini sudah mendapat order sekitar 1.500 unit dan harga satu unitnya sekitar Rp 400 juta (25.000 pound dengan kurs Rp 16.000).

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

Bebek 2 Tak Jangan Coba Lawan Gilera Italjet Ini

Maret 19, 2009 at 2:03 pm (Uncategorized)

060634p
Motor kecil ini bernama Gilera Italjet buatan tahun 2003. Kalau dilihat tongkrongannya, ia tak lebih sebagai skubek asal pabrikan motor Italia, Piaggio. Namun, bebek sekelas Suzuki Satria 2 tak yang sudah korekan bisa disebut hebat kalau bisa mengalahkannya dalam trek-trekan alias tarik-tarikan.

Makanya, si empunya motor, Ramadhani dari Bintaro, Jakarta Selatan, menjuluki tunggangan kesayangannya yang langka itu “Italjet Dragster 180”. Modifikasinya dilakukan di bengkel Harley Davidson (H-D). Nah lho. Makin bingung, kan.

Rama, demikian sapaan akrab pemilik Italjet ini tak mau sembarangan menyerahkan motornya kepada builder. Selain langka di Indonesia, ketika membelinya langsung dari Italia, motor ini dalam kondisi masih baru.

Namun, tampilan standarnya masih kurang buat Rama. “Warna bodi dan sasis standar kurang gahar,” terang Rama soal si kecil yang gesit dan punya keunikan pada shockbreaker depan. Modelnya monoshock (tanpa memakai tabung) yang bersinergi dengan arm menggunakan sistem SIS (sistema indipendente di sterzo) dan bisa disetel keras-lembutnya.

Ia akhirnya memasukkan motornya ke bengkel cat Panel One yang biasa mengecat H-D. Supaya kontras, sasis trail dikelir merah menyala. Beberapa part atau body kit juga disiram merah, kecuali warna bodi (hitam) tetap dipertahankan agar tak mengubah STNK.

Soal tenaga, bebek sekelas Suzuki Satria 2 tak, yang sudah dikorek, jangan coba-coba ajak ngebut. Mesin Italjet ini berkapasitas 175,77 cc dengan tenaga 19 dk pada 8.000 rpm, jelas di atas jenis motorsport seperti Honda Tiger yang hanya 18 dk.

Pantas kalau Rama pede ngebut dan ia sempat diajak ngetrek lawan Suzuki Satria 2 tak korekan. Hasilnya, Italjet ngacir tanpa harus main gigi. Sekalipun menang, Rama belum puas dengan tenaganya. Ia sedang mengorder knalpot khusus.

Wah, tambah kencang, dong.

Permalink Tinggalkan sebuah Komentar

Skuter Alien di JMS2008

Maret 19, 2009 at 2:01 pm (Uncategorized)

090151p
Dua skuter Suzuki yang dipajang di JMS2008, yaitu SD-01 dan SD-02, menjadi magnet bagi pengunjung pameran. Pasalnya, penampilan kedua skuter ini aneh, unik, dan futuristik. Lampu depannya ramai, berkelap-kelip dan bisa pula berubah warna. Kombinasi desain dan penempatan lampu depan kedua skuter, utamanya yang hitam, membuat penampilannya mirip dengan makhluk alien dari planet lain.

Seperti alien, informasi dari Suzuki tentang motor ini juga sangat minim. Ketika ditanyakan tentang konsep skuter ini kepada H Yamaguchi yang mengurus masalah promisi Suzuki Roda-2, ia hanya menjelaskan bahwa SD-01 dan SD-02 merupakan transformasi dari skutik konsep ke yang sudah diproduksi, yaitu Spin. Kebetulan kedua motor konsep ini dijejerkan Suzuki dengan Spin modifikasi dengan penampilan mengilap atau krom dan bukan Skywave.

Pameran Bangkok
Sebenarnya kehadiran kedua skuter konsep masa depan Suzuki merupakan yang kedua kali di arena pameran. Sebelumnya, Suzuki sudah mejeng di Bangkok International Motor Show pada 26 Maret–6 April lalu.

Di arena itu, terutama bagi komunitas motor dan skuter, SD-01 dan SD-02 juga magnet dan menarik bagi para pengunjung, bahkan banyak diperbincangkan di berbagai blog penggemar skuter dan motor di internet.

Di lain hal, upaya Suzuki menampilkan konsep skuter kecil massa depan tentu saja tidak lepas dari tren konsumen kendaraan roda dua di negara-negara ASEAN. Jumlah konsumen yang menyukai kendaraan roda dua jenis ini terus meningkat, termasuk Indonesia.

Cukup menarik, Suzuki sengaja menampilkan dua skuter sekaligus. Keduanya bak pinang dibelah dua. Dua saudara kembar yang saling “mengisi”. SD-01 ditampilkan Suzuki dengan warna hitam plus aksentuasi merah pada bagian tertentu. Bentuknya mirip alien dengan lampu LED depan yang ramai dan berkedap-kedip. Dengan bentuk seperti ini, ada pula yang menyebutnya sebagai skuter “cyber”, sedangkan SD-01 berwarna putih, bentuk lampunya sama dengan saudara yang hitam. Hanya motif tutup mikanya yang berbeda.

Bagi Suzuki, kedua skuter ini dibanggakan sekali. Karena itu pula, Gunadi Sindhudinata dari Indomobil mengajak Menteri Perindustrian melihat kedua skuter tersebut dari dekat. Terakhir, Fahmi Idris mau juga melongok salah satunya, yaitu SD-02 alias si putih dengan roda yang lebih kecil dibandingkan si hitam. Begitu melihatnya, Pak Menteri langsung berkomentar,” Ini kekuatannya tidak dijamin.” Ia pun memegang sadel model rajut atau sarang lebah yang bisa disetel pada skuter tersebut. Beberapa saat kemudian, sadel itu copot dan tak dipasang lagi oleh Suzuki.

Desain
Pada JMS kali ini, ada dua produsen menampilkan konsep skuter kecil masa depan, yaitu Suzuki dan Yamaha. Kalau Suzuki menampilkan si kembar SD-01 dan SD-02, Yamaha memperlihatkan konsepnya melalui S3+.

Hal yang menarik dari skuter konsep yang dipajang kedua produsen tersebut, konsep desainnya sama. Yaitu bodi dengan garis-garis tajam atau lancip. Namun, Suzuki lebih canggih, depan dan belakang menggunakan monoshock atau peredam kejut tunggal. SD-1 dan SD-02 menggunakan model sepatbor roda belakang yang terpisah dengan bodi. Di atas sepatbor, bagian bodi dari skuter seperti mengapung. Cara yang sama juga diadopsi oleh Yamaha.

Lampu LED
Wajah SD-01 dan SD-02 dipenuhi dengan lampu LED yang berkedip-kedip dan bisa berganti warna. Skuter SD-01 bisa menampilkan warna merah dan putih, sedangkan lampu sampingnya menampilkan warna putih dan oranye. SD-02 desain lampu depannnya berbeda. Di tengah menghasikan cahaya biru, dan kedua sisinya oranye.

Untuk belakang, kedua skuter menggunakan model dan desain lampu yang sama. Lampu dipasang di ujung bodi paling belakang bawah yang mencuat ke atas. Menurut beberapa pengamat, desain kedua skuter ini sangat kental dengan gaya Italia.

SDE-01 menggunakan ban lebih besar dari SD-02. Informasi yang disampaikan Suzuki, skuter ini menggunakan panel instrumen berupa PDA. Dengan ini nantinya, instrumen bisa digunakan sebagai navigasi GPS, telepon selular, dan MP3 player. Pokoknya trendi abis dah!

Penampilan skuter makin “bersih” karena tidak ada komponen yang menonjol atau mencuat dari permukaan bodinya yang mulus. Roda depan pun dilengkapi rem cakram dengan ukuran besar dan berbentuk bintang. Bahkan, untuk memberikan kesan gagah dan kokoh, roda depan dilengkapi dengan peredam kejut tunggal berdiameter besar.

Tenaga Listrik
Melihat tidak adanya knalpot dan adanya bulatan tabung di depan roda belakang, kemungkinan Suzuki mengandalkan motor listrik sebagai penggerak skuter ini. Kalau sudah begitu, tak salah lagi ini dianggap sebagai skuter masa depan. Karena semakin “menyemutnya” kendaraan roda dua di jalan raya, salah satu cara untuk mengurangi polusi dan gangguan suara bising, ya… tenaga listrik! Oke dong!

Minggu, 17 Januari 2010